Silahkan cari

Memuat...

Arkeologi Bawah Laut Nusantara


Laut Indonesia dikenal sebagai lumbung harta karun. Sayang, perangkat hukum belum kuasa membendung penjarahan.
Oleh CAHYO JUNAEDY
Foto oleh ADHI PERWIRA
Siang itu, mendung menggayut di langit perairan laut Karang Delapan, sebuah gugusan karang di Bangka selatan, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung (Babel). Sejak subuh, hujan tak kunjung usai. Sebelum saya menyelam, muka laut tampak tenang. Sesaat setelah saya terjun, terasa arus di bawah riak air begitu kuat, membuat saya cemas dan meremas tali buoy—seutas tali ber¬ujung jangkar yang dipancang sebelum menyelam—semakin erat. Menyelam ke dasar, arus semakin liat. Samar-samar, di kedalaman 30 meter terlihat alas laut berupa samudra pasir dan gugusan karang, serta gundukan-gundukan batu tak beraturan dengan berbagai tumbuhan laut yang berebut hidup.

Lokasi penyelaman ini dijajaki lantaran selama hampir tiga bulan tim dari Direktorat Peninggalan Bawah Air (DPBA), Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala mencium anomali kandungan logam dari sekitar Karang Delapan. Saat dilakukan survei permukaan laut dengan alat magnetometer—pelacak medan magnet yang biasa dipancarkan logam—sinyalnya terendus di lokasi ini. Sinyal tersebut harus dikonfirmasi: apakah betul itu merupakan jejak kapal karam atau hal lain. Karena, biasanya, kapal paling sederhana dan tua sekalipun memiliki elemen berbahan logam. Setelah berputar selama 10 menit, apa yang kami buru pun muncul. Di atas gugusan karang panjang, salah satu anggota tim yang menggapit pendeteksi logam terkejut. Suara alat pendeteksi ini semakin mengganggu gendang telinga saat kami berenang di ujung gugusan karang. Di balik dua gugusan karang yang menyerupai pagar itu terserak batang-batang kayu yang masih tersusun rapi seperti rusuk. Meski diselimuti pasir tebal, ujung-ujungnya sedikit tersingkap. Ya, inilah bagian papan lambung sisa kapal karam. Mungkin ikatan logam atau paku pada kayu inilah yang memancing metal detektor menjerit.

Yuri Romero, ketua tim penyelaman, lang¬sung mencari bentang alam permanen buat dijadikan pangkal ukur. Sebuah batu besar di selatan relik kapal jadi patokan. Semua temuan yang terserak dicatat dan diukur—jenis, derajat, dan jarak—sebarannya dari batu yang dijadikan datum point ini. Begitulah sebuah kapal. Jika tenggelam di dasar laut, perlahan akan merengkah. Bagian-bagian tubuhnya terlepas satu per satu dari ikatan strukturnya. Otomatis, benda yang ada di perutnya akan dimuntahkan, terserak dibawa arus air. Proses ini akan segera diikuti penimbunan, baik oleh pasir maupun lumpur selama ratusan tahun. Jadilah bukit-bukit pasir atau lumpur yang menggunung. Biota laut akan sempurna menyembunyikan jejak kapal ini.

Kembali ke dasar laut, di sekitar lunas kapal yang tertanam pasir terserak sejumlah guci tambun, tempayan, dan mangkuk. Meski semua benda muatan ini bersimbur lumpur tebal, karang dan tumbuhan laut, bentuk aslinya masih mudah dikenali. Yang paling banyak adalah mata uang Tiongkok—mata uang bertuliskan aksara Tionghoa dengan lubang bulat di poros—berbahan perunggu dan masih bertumpuk, seperti sate. Dari semua benda yang terserak, ada sejumlah temuan unik, atau malah janggal.


Di sekitar situs kapal karam ini ditemukan temali plastik. Sisa tali bahkan masih melilit di sejumlah pecahan benda muatan kapal. Bukan itu saja, alat-alat selam seperti selang udara, linggis, pemberat dari kaleng berisi semen—juga ditemukan di sekitar situs. Semua benda ini tidak seusia kapal, bahkan bisa dibilang anyar. Hal yang paling parah, di sekitar situs ini banyak terserak pecahan-pecahan keramik tak beraturan. Sepertinya di sekitar situs kapal karam ada penggalian sekaligus sampahnya.
Diduga kuat, situs kapal karam ini sudah dijarah. Skala kerusakan seperti ini biasanya disebabkan oleh penggunaan dinamit, karena selain banyaknya kepingan artefak, lokasi sebarannya tidak in-situ—tidak pada tempat aslinya. Jangankan mendapatkan temuan artefak dalam kondisi baik, apalagi masterpiece, untuk menerka-nerka jenis kapal yang karam saja sangat sulit. Padahal, selain untuk mendapatkan artefak berharga, situs kapal karam amatlah penting sebagai data arkeologis. Paling tidak, itu bisa dipakai buat menjelaskan asal-muasal kapal ini dan sejarah kebaharian Nusantara kuno. Dari balik masker selam, raut wajah Yuri terlihat mengeras. Mungkin kecewa atau malah marah. Untuk kesekian kalinya, dirinya kalah cepat dibandingkan para pemburu harta karun. Selama tiga tahun terakhir, ia telah melakukan survei peninggalan arkeologi bawah air di sekitar pulau Bangka; sebanyak 38 situs kapal karam berhasil ditemukan, tapi sebagian besar telah dijarah.

Tidak hanya Yuri, semua tim yang turun pada siang itu juga dibekap kegundahan yang mirip. Suhu 26 derajat Celsius yang tercatat pada dive comp saya sepertinya kalah beku dibandingkan suasana penyelaman siang itu.
Laut Indonesia sudah lama dikenal sebagai lumbung bagi pemburu harta karun. Sebut saja kisah Flor de la Mar, yang tenggelam pada 1512. Kapal Portugis yang membawa emas dari Kerajaan Malaka itu tenggelam di perairan Riau, lengkap dengan pampasan perang. Catatan sejarah menunjukkan ada singa dan gajah emas, serta mahkota bertatahkan ratna mutu manikam dalam muatan Flor. Taksiran nilainya, delapan miliar dolar, setara Rp72,2 triliun pada kurs Rp9.000.

Jadi, siapa yang tak tergiur?
Menurut Tony Wells, dalam bukunya Ship¬wreck and Sunken Treasure in Southeast Asia, 1995, ada sekitar 185 kapal karam di perairan Indonesia, atau 41 persen dari total kapal karam di seluruh perairan Asia Tenggara. Data Departemen Kelautan dan Perikanan, yang dikumpulkan dari catatan-catatan sejarah, lebih fantastis lagi: total titik kapal karam di Indonesia mencapai 2.046 lokasi, 10 persennya diduga memiliki nilai komersial.

Sekurangnya ada 463 kapal yang karam pada 1508 sampai 1878 yang sudah diketahui lokasinya.
Kongsi dagang Belanda—Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC)—juga menerbitkan sejumlah dokumen sejarah soal peta pelayaran dunia. Di sana disebutkan nama-nama kapal milik mereka yang tidak pernah kembali ke Amsterdam lantaran karam. Menariknya, dokumen tersebut tidak hanya mencatat tahun karam, melainkan juga menyebut muatan dan lokasinya. “Data seperti inilah yang jadi pegangan para pemburu harta karun,” kata Gatot Ghautama, Kepala Subdirektorat Perlindungan Peninggalan Bawah Air. Sejak silam, perairan Nusantara memang dilintasi berbagai kapal yang berlayar dari China, Vietnam, Thailand, Borneo, India, lalu menuju Jawa. Mulai dari kapal-kapal dagang hingga kapal perang.

Ganasnya iklim ditengarai jadi penyebab utama tenggelamnya kapal-kapal tersebut. “Perairan Nusantara memang memiliki segudang perangkap alam,” kata Gita Arjakusuma, Nakhoda Kapal Phinisi Nusantara. Mulai dari lumpur yang tebal, karang-karang yang menyebar, perairan dangkal, hingga cuaca yang sulit diprediksi. “Masuk akal jika banyak kapal karam di Indonesia,” katanya.
Perang jadi pemicu lain kapal karam. Misalnya kapal Portugis, Alioza de Caruailla, Saint Simon, dan Erasmus yang dibakar karena kalah perang melawan armada Belanda, pada 18 Agustus 1606 di Selat Malaka.

Pemburu harta karun menjadikan laut Indonesia sebagai target sejak ditemukannya kapal Vec De Geldermalsen milik VOC yang karam pada 1752 di Karang Heliputan, Tanjung Pinang. Pada 1986, muatan kapal diangkat. Pelaksananya adalah Lembaga Ekspedisi Pemanfaatan Umum Harta Pusaka Rakyat Indonesia yang bekerja dengan perusahaan asing, Swatberg Limited Hongkong pimpinan Berger Michael Hatcher. Dari perut bangkai kapal Geldermalsen ditemukan 126 batang emas lantakan dan 160.000 artefak keramik dinasti Ming dan Qing. Setahun kemudian, seluruh benda cagar budaya ini dilelang di Balai Lelang Christie’s Amsterdam dengan nilai total 17 juta dolar. “Negara tidak mendapat sepeser pun,” kata Gatot. Karena, “sejak awal pengangkatan, instansi yang bertanggung jawab tidak tahu.” Lantaran begitu gampangnya mengeruk harta kapal karam di perairan Nusantara, Hatcher pun kembali. Setidaknya inilah yang terjadi pada 1997; meski sudah ditangkal masuk Indonesia—terkait kasus Geldermalsen—ia bisa dengan mudah menyelami laut sekitar Pulau Bangka. Pada Mei 1999, ia menemukan onggokan kapal Tek Sin Cargo, kapal China dari Dinasti Qing yang tenggelam pada 1822 di Selat Gelasa, Sumatra Selatan. Pemerintah buru-buru meng¬ancam mengumumkan harta karun itu ilegal, sebelum Hatcher melelang temuannya. Tak kurang dari 450.000 keramik berbagai jenis diterbangkan Hatcher ke Stuttgart, Jerman. Meski di bawah ancaman pemerintah Indonesia, lelang tetap digelar pada 17-25 November 2000 oleh Balai Lelang Nagel Auction. “Lagi-lagi negara kalah,” jelas Toye, panggilan akrab Gatot. Pemburu lainnya adalah Tilman Walterfang, 47 tahun, dari Seabed Exploration, Jerman. Walterfang berhasil melelang muatan kapal Intan, dari dinasti Song—abad ke-11—yang di¬temu¬kannya di perairan antara Riau dan Kalimantan. Harta karun itu diangkat pada 1997, lalu disimpan di Selandia Baru. Nilai muatan terakhir—adanya artefak batu hitam (satam)—diperkirakan mencapai 40 juta dolar. Ia juga diduga menjadi otak di belakang pengangkatan kapal dinasti Tang (abad ke-7) dari perairan Belitung.

Sebenarnya, pemerintah memiliki sepe¬rangkat alat hukum buat menjerat pemburu alas samudra ini. Sejak kasus Geldermalsen, pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 43/1989 soal pembentukan Pani¬tia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Asal Muatan Kapal Tenggelam (Pannas BMKT). “Kala itu, yang ditunjuk sebagai ketua adalah Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan,” kata Toye. Diharapkan, dengan hadirnya Pannas, pem¬berian izin dan proses pengangkatan akan semakin tertib. “Ternyata tidak, malah muncul kasus Tek Sin Cargo.”


Menurut Surya Helmi, Direktur Peninggalan Bawah Air, Ditjen Sejarah dan Purbakala, struktur organisasi Pannas terlalu gemuk. Sekurangnya ada 15 institusi yang tergabung di dalamnya. “Ujungnya, birokrasi jadi pan¬jang dan lambat,” jelasnya. Padahal, Surya me-lanjutkan, buat menjerat para pemburu harta karun dibutuhkan lembaga yang ramping agar bisa bergerak cepat dan fleksibel. “Para pemburu bisa tiba-tiba muncul di lokasi perairan Indo¬nesia yang luas dan lari membawa hasil rampokan harta karun,” dia menjelaskan. Karenanya, usai sengkarut lelang isi perut kapal Tek Sin Cargo, pemerintah bergerak sigap. Kep¬pres No. 43/1989 diperbaharui dengan Keppres No. 107 tahun 2000, tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga asal Muatan Kapal yang Tenggelam, dengan ketua Pannas dipindahkan ke Menteri Kelautan dan Perikanan, dan struktur yang lebih ramping.

UNESCO, badan dunia yang mengurus ke¬budayaan juga didorong oleh pemerintah Indonesia buat melahirkan konvensi yang men¬dukung perlindungan situs arkeologi bawah air. Maka muncullah Convention on the Protection of the Underwater Cultural Heritage pada 2001. “Meski terlambat, payung hukum perlindungan situs arkeologi bawah air jadi lebih kuat,” tambah Helmi. Berbekal perangkat itu, polisi berhasil me¬nekuk pemburu harta karun yang menggunakan kapal tongkang Swissco Marine 9 berbendera Belize di Kepulauan Riau, atau kapal Resless M yang sedang menggerayangi lokasi kapal karam di Bangka.

“Sedikitnya 32.150 temuan keramik berhasil diselamatkan,” ujar Helmi. Dan sejak itu, laut Indonesia sunyi dari badai pencarian harta karun.
Kesan tua segera muncul dari tubuhnya yang keriput. Namun, untuk ukuran orang berusia 70 tahun, ia jelas cekatan. Dengan tabung oksigen di punggungnya ia terjun, dan tak lama kemudian ditelan ge¬lombang. Begitu muncul, lelaki ini langsung me¬lempar senyum sumringah. Seperti seorang anak yang dibelikan mainan, ia memamerkan temuannya: piring China. Tampak beberapa kali ia menyelam, dan saban naik ia membawa mangkuk atau vas. Itulah Michael Hatcher, jawara pemburu harta karun, seperti disajikan sebuah film dokumenter yang dirilis medio 2010.

Dari wajah pribumi para awak kapal, diduga Hatcher tengah beraksi di perairan Blanakan, Subang, Jawa Barat.
Teks dalam bahasa Inggris yang menjadi pembuka film itu blak-blakan menyatakan Hatcher berada di Indonesia: Penemuan Kapal Karam 2009. Sebuah kapal karam dari zaman Dinasti Ming telah ditemukan di Laut Jawa oleh pemburu dan penyelamat harta karun terkemuka Michael Hatcher.

Dalam film itu, Hatcher berkacak-pinggang di atas kapal berukuran sekitar 58 x 28 meter, yang membawa tak kurang dari satu juta aneka rupa porselen peninggalan Dinasti Ming. Semua¬nya diangkat sekitar empat bulan. Film itu juga menampilkan rekaman pemandangan menakjubkan di dasar laut: gunungan porselen aneka rupa yang sebagian besar masih dalam kondisi utuh. Nilai tiap-tiap porselen langka itu, dalam film, disebutkan 10 ribu dolar (sekitar Rp90 juta) hingga 20 ribu dolar (Rp180 juta). Jika dihitung-hitung, nilai total semua porselen itu diperkirakan mencapai 200 juta dolar atau sekitar Rp1,8 triliun.


Film ini seperti menampar wajah Pannas. Bagai¬mana tidak? Orang yang sudah dicekal, dan dua kali terbukti melakukan kejahatan atas situs arkeologi bawah air kembali leluasa menjarah. “Polisi sedang memburunya,” komentar Fadel Muhamad, ketua Pannas BMKT, waktu itu. “Inilah bukti lemahnya perlindungan situs arkeologi bawah air,” jelas Bambang Budi Utomo, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Bahkan, agar lebih laku dijual, temu¬an dari kapal-kapal yang karam disalin penyebutannya dengan harta karun.

“Padahal ini adalah benda cagar budaya yang dilindungi undang-undang,” ujar Bambang.
Selain uang, obsesi petualangan bisa membuat seorang pemburu bertaruh nyawa. Seperti dialami Mel Ficher, legenda pemburu harta karun asal California. Sejak umur 16 tahun, ia menyimpan impian menemukan Nuestra Senora de Atocha, kapal Spanyol yang tenggelam pada 1622 di Pantai Florida dengan muatan penuh emas dari suku Aztec. Ia menjual seluruh harta¬nya untuk memburu Nuestra Senora. Istri dan anaknya tewas tatkala kapal survei yang mereka tumpangi tenggelam pada 1975. Fischer jatuh bangkrut dan tak mampu membayar para penyelam, tapi emas Aztec itu tak kunjung datang. Baru pada 20 Juli 1985, muatan Nuestra senilai 400 juta dolar itu bisa dikeduk. Fischer, yang pernah berkali-kali lolos dari ganasnya laut, meninggal sebagai orang terhormat pada 1998, sembari mewariskan sebuah museum harta karun di Florida.

Lalu, bagaimana agar situs arkeologi bawah air bisa bermanfat buat khayalak, dan tidak hanya jadi makanan empuk pemburu harta? Apakah pengangkatan dan lelang bisa jadi solusi? Anjuran UNESCO agar membiarkannya sebagai cagar budaya di bawah laut sepertinya bukanlah pilihan yang tepat. “Saya yakin akan habis. Nelayan dan sindikat yang mengambil secara ilegal makin banyak,” ujar Bambang.

Menurutnya, yang diperlukan adalah upaya penyelamatan yang nyata, pengangkatan bisa jadi alternatif. “Asal dilakukan dengan benar dan berdasarkan kaidah arkeologi,” katanya.
Selain itu, lanjut Bambang, diperlukan desain pemanfaatan aset budaya bawah air yang berorientasi pada penguatan jati diri. “Dan yang bisa meningkatan kesejahteraan.” Buat langkah awal, pemerintah sempat membikin proyek percontohan. Digandenglah PT Paradigma Putra Sejahtera, yang bermitra dengan perusahaan asing PT Cosmix buat mengangkat kapal yang karam di laut Cirebon pada 2004. Berbeda dengan pengangkatan muatan kapal karam sebelumnya, sejak awal dilakukan survei yang baku dengan pengawasan yang ketat. “Data arkeologis dan sejarah dicatat sebelum isi muatan kapal diangkat,” kata Junus Satrio Atmodjo, Direktur Peninggalan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. B

egitu pun soal pelelangannya. “Pannas dan lembaga terkait ikut terlibat aktif,” jelas Junus. Tidak bisa dinafikan, dalam tiap temuan muatan kapal karam di Indonesia atau belahan dunia mana pun, potensi ekonominya memang besar.
Dari perut laut Cirebon ini berhasil dikeruk tak kurang 500.000 artefak dalam berbagai jenis dan kondisi. Dugaannya, kapal yang karam adalah kapal niaga milik Kerajaan Sriwijaya. Ada keramik China dari zaman Lima Dinasti (907-960 Masehi).

Ada cermin abad ke-10 yang kembarannya hanya ada separuh di Museum Sichia China. Ada batu-batu kristal, gelas berukirkan huruf Arab Kufi, pecahan rubi yang diperkirakan dari Dinasti Fatimiyah, patung kecil manusia berkepala anjing, peralatan upacara agama Buddha, dan cepuk-cepuk berisi candu.
Yang paling menarik adalah ditemukannya artefak berbentuk seperti gagang pedang berbahan emas murni. Jumlahnya dua buah, satu masih utuh dan lainnya rusak, dengan panjang 17,9 sentimeter dan berat sekitar 300 gram. Semua disimpan oleh pemerintah, sebagian jadi koleksi museum dan sisanya dilelang. Meski belakangan lelang gagal dan tidak menghasilkan profit, setidaknya langkah te¬robosan ini telah menciutkan nyali pemburu.

Pesan¬nya jelas, pemerintah serius menangani aset budaya bawah air. “Kita harus berani,” kata Junus tegas.
Kunjungan ke alas laut bukan hal baru bagi Riyadi, penyelam tradisional Bangka. Bermukim di perkampungan nelayan Sadai, ujung selatan pulau, darah lelaki keturunan Bugis ini seakan telah larut dengan asinnya air laut. Dibantu alat-alat selam sederhana, seperti masker, tabung zat asam, selang dan sebuah kompresor, ia terjun ke laut tanpa dihantui cemas. Lelaki 45 tahun ini memilih menjadi pem¬buru harta karun karena alasan ekonomi. Untuk itu, ia mengandalkan bakat alam dan pengalaman. Berbahaya atau tidak, soal kedua. “Alhamdulillah, selama ini saya terhindar dari maut yang selalu mengancam,” ungkap lelaki bertubuh ceking ini. Karena, menurut dia, ada dua bahaya yang selalu menunggu: diterkam makhluk laut atau kehabisan zat asam, seperti dialami ayahnya yang juga seorang pemburu.

Sekitar tahun 1990-an, hampir seluruh anak muda di Sadai berprofesi sebagai pencari harta karun. Tak heran lantaran Sadai terkenal dengan “penyelam kompresor”-nya yang andal. Tidak sedikit nelayan yang kaya mendadak karena profesi itu. “Walaupun hanya berbekal sepotong informasi,” kata Riyadi. Ya, informasi nelayan kerap menjadi rujukan paling potensial buat mencari lokasi kapal karam bagi pencari harta karun profesional. Riyadi ingat betul, pada masa-masa itu banyak kapal dengan perlengkapan modern mondar-mandir di pekarangan lautnya.

Soal informasi nelayan, Alejandro Mirabel Jorge, arkeolog dari Arquenautus Worldwide Portugas, rekanan PT Bangun Bahari Nusantara yang melakukan pemetaan lokasi kapal karam di Bangka, menyakini itu sebagai rujukan penting. “Biasanya buat memastikan,” kata Alejandro. Tapi, lanjut Alejandro, banyak pula situs arkeologi bawah air yang rusak lantaran ulah nelayan yang bersalin profesi sebagai pencari harta dasar laut. “Di sejumlah situs di Bangka, banyak sisa jejak nelayan jenis ini,” katanya. “Salah satunya sisa dinamit.”
Soal dinamit, Riyadi mengakui. Meski ia sendiri belum pernah melakukan, ayahnya pernah mencoba.

Tanpa benda ini, para pe¬nyelam tak mungkin menerobos ke dalam ruangan kapal yang karam. Buat mencari lokasi kapal karam, Riyadi tidak menggunakan detektor logam, cukup dengan besi berani atau magnet yang kuat. Terikat pada kawat baja, magnet itu diulur sampai menyentuh dasar laut, kemudian ditarik dengan kapal motor yang hilir mudik. Nah, bila tersentuh badan kapal, pasti magnet akan melekat. Tapi jika badan kapal terbuat dari kayu, menurut Mohamad Said, juga penyelam tradisional Sadai, “caranya hampir sama, tapi menggunakan jangkar.”
Mencari kapal karam, kini bukan lagi pe¬kerjaan menarik buat anak muda Sadai. Selain tidak seleluasa 20 tahun silam, pekerjaan ini terlalu berisiko. Kini, warga menggunakan pe¬nge¬tahuan nautika dan keahlian “selam kompresor” buat memasang bubu—kerangkeng perangkap ikan—yang diselipkan di antara karang di dasar laut. “Atau menjadi ne¬layan timah,” kata Ahmad Rifai, ketua perkumpulan nelayan Sadai. “Itu lebih menjanjikan.”

Dua buah mangkuk berbibir gripis yang tertempeli karang dan binatang mati itu diangkat perlahan. Sebelumnya lokasi mangkuk diukur dari datum point. Begitu pun sejumlah uang Tiongkok yang berjarak dua meter arah barat dari mangkuk. Ketiga artefak ini dimasukkan ke dalam kantung jaring bertali yang melilit di pergelangan Yuri. Setelah 15 menit, kami menyeruak ke udara Bangka yang mulai hangat. Sebuah kapal karet menyambut. Satu persatu anggota tim naik, dan langsung menuju Discovery: kapal sepanjang 35 meter milik Historical-Nautical Archaeology Foundation yang disewa oleh Arquenautus Worldwide Portugas.

Di sinilah semua contoh artefak dari situs bawah air dianalisis, diukur, dan didokumentasikan.
Discovery adalah potret nyata gagapnya Indonesia menangani warisan budaya bawah laut. Bagaimana tidak? Survei, pemetaan, dan pengangkatan muatan kapal karam ini semuanya dikomandani orang asing. Jangan¬kan kemampuan memetakan isi perut laut, Indonesia juga tidak memiliki kapal yang mumpuni buat mengendus lokasi kapal karam. S

upratikno Rahardjo mengamini. “Dibanding negara-negara di Asia Tenggara, Indonesia yang paling ‘buncit’,” jelas staf pengajar Arkeologi Maritim, Universitas Indonesia ini. “Indonesia masih pada tataran teori,” imbuh Supratikno. Padahal, buat melahirkan sumber daya manusia yang kuat, teori dan praktik harus beriringan.
Saat ini, hanya ada empat universitas yang menyelenggarakan kuliah arkeo¬logi; Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanudin, dan Universitas Udayana. Tapi belum semuanya mengembangkan arkeologi bawah air.

Di buritan Discovery, di atas meja, artefak hasil survei tersusun rapi. Alejandro serius mengamati setumpuk koin Tiongkok. Sesekali ia memerhatikan mangkuk berwarna hijau yang tak utuh itu. “Saya perkirakan benda ini berasal dari abad 14 masehi,” jelasnya yakin. Alasannya jelas, komoditas itu adalah barang yang populer diperdagangkan sekitar tahun 1250 hingga 1350 Masehi. Melihat teknologi pembuatan keramik, diduga berasal dari provinsi Zheijang, China.

Hanya itu yang bisa terjelaskan. Sedangkan bentuk kapal, besaran atau malah asalnya gelap. Tidak ada lagi kepingan sejarah yang bisa disusun buat merunut peta pelayaran dagang Nusantara. Semua hilang, atau tepatnya hancur.
Saya memandang permukaan laut Bangka yang tenang dengan takjub. Sesekali berusaha menebak rahasia di balik riaknya. Mungkinkah bangkai kapal karam beserta muatannya masih ada yang terselamatkan? Atau tinggal kumpulan puing sisa jarahan pemburu harta karun?

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/featurepage/203/arkeologi-bawah-laut-nusantara/1