Dinas Kebudayaan Provinsi Kepri Sosialisasi Arkeologi Bawah Air


Sosilisasi Dinas Kebudayaan Provinsi Kepri Tentang Arkeologi Bawah Air
Kepriterkini.id: Hari ini Dinas Kebudayaan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mengadakan Sosialisasi Arkeologi Bawah Air pada peserta, digedung Nasional Jalan Yos Sudarso Tanjung Balai Karimun, Kamis

Acara secara langsung dibuka Direktur Pelestarian Cagar Budaya Dan Permusiuman Kementrian Pendidikan Republik Indonesia Drs. Harry Widianto yang turut dihadiri Sekertaris Daerah Arif Fadilah,Staf ahli Gubernur bidang sosial dan sumber daya manusia, Komandan lanal Karimun, Kepala Dinas Provinsi Kepulauan Riau, Kepala Dinas pariwisata seni dan budaya Kabupaten Karimun dan para peserta sosialisasi Arkeologi Bawah Air.

Riawina, Ketua pelaksana mengatakan latar belakang cagar budaya Arkeologi bawah air merupakan peninggalan budaya masa lalu yang terletak dibawah permukaan air, baik itu laut,danau sungai dan lain sebagainya yang memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan, sejarah dan kebudayaan serta minimal telah berumur 50 tahun.

Objeknya berupa tinggalan kapal tenggelam, muatan kapal tenggelam bekas pemukiman lama yang tenggelam yang mempunyai definisi sebagai benda berharga yang memiliki nilai sejarah, budaya, ilmu pengetahuan dan ekomoni yang tenggelam di perairan Indonesia.

Tujuan diadakannya kegiatan ini untuk menumbuhkan kesadaran peserta apa arti pentinganya melindungi arkeolog khususnya Arkeologi Bawah Air sebagai warisan budaya bagi penguatan kepribadian bangsa dan sebagai acuan bagi penegak hukum untuk menegakkan aturan pada penanganan arkeologi bawah air.

Drs.H.Arifin Nasir,M.Si, Kegiatan ini masih melibatkan masyarakat karena masyarakat masih kita anggap bersama stak holder dan lainnya sebagai pemangku yang kita anggap penting untuk menjaga peninggalan sejarah masalalu yang mempunyai mata rantai agar dapat dikaji dan diteliti, dengan pendekatan akademik sehingga mampu mengaktualisasikan untuk generasi ungkap Arifin Nasir.

Direktur Pelestarian Cagar Budaya Dan Permusiuman Kementrian Pendidikan Republik Indonesia, Drs.Harry Widianto berharap dengan mengangkat tema Membangun Negeri Dengan Menyelamatkan Dan melestarikan Benda-benda Cagar Budaya. Masyarakat ikut serta dan berperan aktif dalam menjaga Cagar Budaya peninggalan sejarah terutama yang ada di Kepulauan Riau. <Iyan Turnip/Redaksi>

Belajar Menyelam di Bunaken


 Penyu raksasa.
(sumber foto : kompas.com)

KOMPAS.com — Menyelam adalah kegiatan olahraga yang sangat menyenangkan. Kegiatan ini bukan saja baik bagi kesehatan, melainkan juga untuk menenangkan pikiran dan kepuasan batin. Meminjam kata-kata bijaksana seorang penyelam senior asal Florida, Arthur Hamilton, yang mengatakan, "Anda belum melihat dunia apabila Anda belum pernah menyelam di dasar laut."

Indonesia, negara tercinta ini, adalah tempat yang tepat untuk kegiatan menyelam. Hitung saja, di negara kepulauan yang terletak di antara dua benua dan samudra ini terdapat lebih dari 17.000 pulau dari ujung Sumatera sampai tanah Papua. Dikelilingi perbatasan antara laut Andaman, Singapura, Laut Cina Selatan, Malaysia, dan Filipina, serta samudra Pasifik Papua Niugini, Samudra Hindia dan Australia. Laut dan Samudra! Kebayang kan betapa tak terbatasnya air laut untuk diselami!

Lokasi menyelam eksotik di Indonesia begitu banyak dan beragam. Mulai dari Pulau Seribu, Ujung Kulon, Karimun Jawa, Kalimantan, Bali dan Sumbawa, Komodo, Wakatobi, Bangka, Banda dan Flores, Bintan, Makassar, Bunaken, sampai Raja Ampat di Irian Jaya.


Bunaken

Pulau Bunaken, yang berlokasi di Sulawesi Utara, dapat ditempuh pesawat udara langsung dari Jakarta selama 3 jam dan 10 menit. Selama kira-kira 15-40 menit dari pinggiran kota Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara dengan menggunakan kapal motor, melewati Gunung Manado Tua, Anda dapat melihat langsung Pulau Bunaken yang berada tepat di sebelah Pulau Siladen. Pulau Bunaken memiliki taman laut nasional yang terkenal di dunia dengan luas area lebih dari 75.000 hektar, yang dibagi oleh 3 persen daratan dan 97 persen lautan, termasuk di dalamnya Taman Laut Bunaken.

Salah satu majalah travel di Inggris dalam artikel yang berjudul "World Top 10 Best Dives Destination" menobatkan Taman Laut Bunaken sebagai salah satu destinasi selam terbaik di dunia. Penghargaan tersebut tidak berlebihan karena Taman Laut Bunaken yang diresmikan pada tahun 1991 ini dikelilingi oleh lima pulau yang berada di dalamnya, yakni Pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Mantehage, berikut beberapa anak pulaunya, dan Pulau Naen yang jumlah keseluruhan memiliki 29 titik selam (dive spot) yang fantastis!

Apa yang membuat Bunaken spesial?

Pulau Bunaken adalah salah satu pulau yang memiliki biodiversitas kelautan atau keanekaragaman hayati terbanyak di dunia. Taman Laut Bunaken sendiri adalah taman laut yang dilindungi karena terdapat bermacam-macam tumbuhan dan binatang yang diproteksi untuk kepentingan perikanan dan kelautan, dan tentunya pariwisata.

Terdapat lima puluh delapan jenis terumbu karang dan 2.000 spesies ikan di Taman Laut Bunaken. Di antaranya ikan Kuda Gusumi (Hippocampus), Oci Putih (Seriola rivoliana), Lolosi Ekor Kuning (Lutjanus kasmira), kerapu (Epinephelus spilotoceps dan Pseudanthias hypselosoma), Ila Gasi (Scolopsis bilineatus), jenis moluska seperti kima raksasa (Tridacna gigas), Kepala Kambing (Cassis cornuta), Nautilus berongga (Nautilus pompillius), dan masih banyak lagi. Di samping itu, banyak binatang laut langka yang dapat ditemukan di Bunaken, seperti coelacanths, dugong, ikan paus, lumba-lumba, dan penyu.

Tidak ada masa off-seasons, alias kapan saja bisa menyelam di Bunaken. Walaupun menurut pengalaman saya pribadi, waktu terbaik untuk menyelam di Bunaken adalah pada bulan Mei dan Juni. Pada saat-saat seperti itu Anda akan disambut oleh air laut yang jernih dan hangat (temperatur udara 26 derajat celsius-31 derajat celsius). Air laut yang tenang hampir tanpa ombak dan arus, dengan jarak pandang 20 meter-35 meter, memungkinkan saya dapat melihat dengan jelas pesona terumbu karang dan ikan berwarna-warni dengan kedalaman hanya 5 meter! Kedalaman menyelam di Bunaken antara 5 meter dan 40 meter.
Menyelam di Bunaken merupakan suatu perjalanan yang istimewa. Melihat pemandangan bawah laut memberikan pengalaman yang cukup banyak. Kita akan melihat dan merasakan bagaimana menyelam di lokasi landai yang kaya terumbu karang, jenis ikan seperti "ikan Nemo" (clown fish), school fish, dan rombongan ikan warna-warni yang lalu lalang.

Di kedalaman lebih dari 18 meter, Anda akan merasakan pengalaman menyelam di tebing laut (wall diving), seakan kita "terbang" di kedalaman jurang laut (drop-off) yang seolah-olah tanpa dasar. Sesekali bisa bertemu dengan penyu raksasa yang konon sudah berumur hampir 100 tahun, ikan pari (manta, sting, dan eagle rays), kakap, kerapu, barakuda, napoleon, angel fish, blow fish, blue ribbon eels, lobster, sampai hiu!

Untuk para under water photographer di pastikan tidak akan kecewa dengan peluang gambar yang sangat spektakuler dan menarik untuk diabadikan menjadi gambar-gambar foto yang menawan. Seorang teman yang berprofesi sebagai fotografer profesional, Hanny Kandou yang kebetulan juga dive-master mengabadikan kegiatan menyelam kami di kedalaman 20 meter di bawah laut dengan peralatan foto yang cukup rumit. Namun, hasil foto yang di dapatkan sangat dramatis. Menyenangkan juga berpotret ria di dalam laut, bisa melupakan rasa cemas dan takut.

Belajar menyelam

Saya masih ingat saat kali pertama menyelam. Waktu itu saya sedang berlibur di Bunaken bersama seorang sahabat saya, Agnes. Karena belum bisa menyelam, saya harus berpuas diri dengan snorkeling; olahraga rekreasi mengambang di atas permukaan air yang dilengkapi masker dan kaki katak ini sudah saya lakukan dalam beberapa tahun terakhir.

Waktu itu jarak pandang di bawah laut lumayan jernih. Kira-kira 5 meter dari permukaan air, saya bisa melihat Agnes yang sedang menyelam bersama Hanny. Agnes dengan leluasa bermain bersama ikan Nemo hanya dilengkapi peralatan snorkeling seperti saya! Terlihat Agnes melakukan pernapasan dengan teknik buddy-breathing, yaitu meminjam regulator atau alat pernapasan dari Hanny. Enak sekali dia, tidak perlu repot-repot menjinjing tabung udara yang berat, dia menyelam tanpa beban.

Dari situlah, saya tertarik untuk mencoba menyelam. Kenekatan saya membuat saya menerima tantangan Hanny yang hanya membekali saya kursus kilat selama 15 menit. Saya diajari tiga hal penting; pertama, cara bernapas menggunakan regulator. Bernapas melalui mulut, dengan cara menggigit plastik regulator agar tidak lepas.

Kedua, ada dua tombol yang tersambung di BC (buoyancy control, semacam rompi yang berisi udara) yang perlu diperhatikan. Inflating button dan deflating button. Inflating button untuk mengisi udara ke dalam BC agar tubuh menjadi ringan sehingga tubuh akan mengambang naik ke permukaan air, sedangkan deflating button digunakan untuk mengempiskan udara yang ada di BC sehingga tubuh menjadi berat dan perlahan tubuh akan "tenggelam" masuk ke dalam air.

Hal terakhir yang diajarkan adalah bahasa isyarat. Dikarenakan di dalam air kita tidak bisa berbicara, maka satu-satunya cara berkomunikasi adalah dengan bahasa isyarat, yaitu isyarat ibu jari dan telunjuk membentuk huruf "O" berarti "kita dalam keadaaan oke, baik; kemudian isyarat dengan menggunakan tangan yang digerakkan horizontal ke kiri dan ke kanan, yang artinya adalah "kita dalam keadaan tidak baik; gugup, panik, pusing, dan lain-lain"; serta isyarat yang ketiga yaitu "RCTI oke" yang digerakkan naik-turun, yang artinya "saya mau naik!"

Makanya saya selalu tersenyum saat melihat iklan televisi swasta tersebut dengan mengacungkan jempol di dalam air yang menyatakan "RCTI oke", yang artinya dalam bahasa isyarat penyelam adalah "RCTI mau naik!"

Dengan berbekal ketiga pengetahuan singkat tersebut, saya memberanikan diri untuk langsung menyelam! Pengalaman yang tak terlupakan pada saat saya melihat terumbu karang dan ratusan ikan di kedalaman empat meter membuat saya hampir lupa bernapas! Kalau ingat pengalaman itu, saya merasa sangat bodoh karena setahun kemudian saya mengambil kursus menyelam dan instruktur selam saya membuka kelas mengajarnya dengan satu pertanyaan, yaitu "Apa konsekuensi menyelam?" dengan jawaban telak yaitu, "Mati!" Seharusnya saya tidak melakukan penyelaman dengan hanya berbekal kursus kilat waktu itu! Wuih!

Olahraga scuba diving atau set contained underwater breathing apparatus memang olahraga yang cukup berbahaya. Namun, apabila kita mengetahui cara menyelam yang baik dan benar, maka kegiatan ini sangatlah seru. Lembaga resmi di Indonesia ada Pusat Olah Raga Menyelam Seluruh Indonesia (Possi), Confederation Mondiale des Activities Subaquatiques (CMAS) asal Italia, Professional Association Diving Instructors (PADI), Scuba Diving International, dan beberapa lembaga selam lainnya.

Saya mengambil kursus menyelam selama lima hari (dua hari teori dan tiga hari praktik) untuk mendapatkan sertifikat open water dive dari National Association of Underwater Instructors (NAUI). Saya diajari pengetahuan dasar dan teknik menyelam. Saya juga belajar mengenai peralatan selam, pengetahuan menyelam, upaya penyelamatan diri dan bagaimana melakukan praktik selam yang aman dan nyaman, juga tak kalah pentingnya adalah belajar bagaimana menjadi penyelam yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup.

Di Taman Laut Bunaken, masih saja terlihat beberapa sampah di atas permukaan air. Sudah hal biasa saat menyelam saya sering mengambil sampah plastik ataupun kaleng minuman yang nyangkut di karang dan membawanya ke atas kapal. Kegiatan yang dilarang oleh pemerintah setempat dan Nature Conservation di Bunaken adalah memancing, menebang pohon, dan merusak ekosistem kelautan dengan denda sampai Rp 2 juta dan maksimum 10 tahun penjara. Semoga saja hal ini bisa menjadi peraturan resmi yang ditaati oleh penduduk setempat, terlebih bagi para pengunjung.

Dalam dua hari teori, saya diajarkan mengenai jadwal penyelaman, yaitu kedalaman dan waktu selam, seperti contoh di kedalaman 21 meter dengan waktu selam selama 40 menit, decompression stop, atau saat kita harus berhenti beberapa waktu saat kita selesai menyelam dan naik ke permukaan air, serta teknik-teknik serius menyelam lainnya. Kursus menyelam teori diakhiri dengan ujian yang harus dipenuhi sebelum melanjutkan ke praktik.
Dalam tiga hari praktik yang diadakan di kolam renang, saya dilatih bagaimana cara bernapas di dalam air menggunakan regulator dan juga memasang alat menyelam sendiri dengan benar. Enaknya di Indonesia, penyelam dimanjakan dengan dive-master yang siap membantu memasangkan peralatan selam untuk kita sehingga penyelam tinggal turun dan menyelam.

Pada hari kedua, di dasar danau, saya diajarkan teknik pembersihan masker, buddy-breathing seperti yang dilakukan Agnes dengan dive buddy-nya, dan memasang kembali alat selam yang sengaja dilepaskan di kedalaman delapan meter. Agak takut juga sebenarnya, tetapi untungnya saya berhasil melakukan praktik tersebut dengan baik. Hari ketiga adalah praktik menyelam di laut lepas, termasuk cara melompat dari kapal, cara mengatasi panik, dan bagaimana cara menyelam dengan aliran arus dan teknik penyelamatan diri di dalam air. Seru kan?

Hal yang penting lain yang perlu diperhatikan adalah kita harus dalam kondisi sehat seperti bebas asma, jantung, epilepsi, dan diabetes, serta juga bermental sehat, dan buang jauh-jauh rasa panik dan pikiran yang macam-macam. Tidak bisa berenang? Jangan khawatir. Kalau Anda berpikir Anda tidak bisa menyelam karena tidak dapat berenang, Anda keliru. Justru kalau Anda bisa "tenggelam", maka Anda dapat menyelam! Biarkan batas air laut perlahan naik melalui masker Anda dan perlahan tubuh tenggelam dari permukaan laut, dan tetap bernapas normal! Selanjutnya, pengalaman indah seumur hidup menanti Anda!

Menyelam dapat memberikan perasaan paling luar biasa yang pernah saya rasakan dan yang akan saya kenang selamanya. Siap mencoba? Ayo terjun ke laut dan melihat keindahan dunia alam bawah laut!
 
Sumber :  http://travel.kompas.com/read/2012/01/11/04515929/Belajar.Menyelam.di.Bunaken

Benda Muatan Asal Kapal Tenggelam di Situs Karang Kijang – Belitung; Survei Awal Arkeologi Bawah Air



Benda Muatan Asal Kapal Tenggelam di Situs Karang Kijang – Belitung;
Survei Awal Arkeologi Bawah Air[1]
Harry Octavianus Sofian[2]
Balai Arkeologi Palembang

Abstrak
Pulau Belitung dikelilingi oleh dua selat, yaitu Selat Gaspar dan Selat Karimata yang dikenal oleh para pelaut sebagai selat yang memiliki banyak terumbu karang dan beting pasir yang dapat menyebabkan kapal tenggelam atau kandas. Pulau Belitung dikenal sebagai surga peninggalan arkeologi bawah air berupa kapal tenggelam atau kandas dan benda muatannya. Salah satu tempat yang terdapat BMKT adalah Situs Karang Kijang, tulisan ini akan membahas survei arkeologis yang dilakukan di perairan Karang Kijang-Belitung sehingga diharapkan dapat menambah data tinggalan arkeologi bawah air Indonesia.
Kata kunci : Pulau Belitung, Situs Karang Kijang, arkeologi bawah air

Shipwreck Treasure in Karang Kijang Site – Belitung Distric;
Preliminary Survey of Underwater Archaeology
Abstrack
Belitung island surrounded by two straits, the Gaspar Strait and the Strait Karimata known by sailors as a strait which has many reefs and shoals of sand that can cause the ship sank. Belitung island known as the underwater archaeological sites in the form of ships sank. One of the places is Karang Kijang Site, this paper will discuss the archaeological preliminary survey conducted in this sites, which is expected to increase data Indonesia underwater archeological sites.

Key words:
Belitung Island, Karang Kijang site, underwater archeology

PENDAHULUAN  
1.      Latar Belakang
Berdasarkan letak geografisnya, Pulau Belitung berada pada posisi 2°30’ - 3°15’ Lintang Selatan dan 107°35’ - 108°18’ Bujur Timur pada bagian utara berbatasan dengan Laut Cina Selatan, sebelah timur Selat Karimata, sebelah Barat berbatasan dengan Selat Gaspar dan batas Selatan dengan Laut Jawa. Pulau Belitung banyak dikelilingi pulau-pulau besar dan kecil dengan jumlah sekitar 189 pulau. Luas wilayah Pulau Belitung seluas 34.496 km² terdiri dari 4.800 km² daratan dan 29.606 km² perairan (Listiyani,2008;20).
Gambar 1. Peta Keletakan Pulau Belitung
(Sumber : google earth)

Letak geografis Pulau Belitung yang strategis menjadikan Pulau Belitung sebagai salah satu jalur pelayaran perdagangan internasional, hal ini dapat dilihat dari bukti-bukti arkeologi berupa kapal karam dan muatannya yang ditemukan merupakan bukti peranan Pulau Belitung dalam jalur pelayaran perdagangan internasional. Beberapa kapal karam yang ditemukan antara lain Belitung Wreck abad ke-8, Tek Sing abad ke-18, Intan Wreck abad ke-10. Penemuan kapal karam memastikan jalur sepanjang pantai terhubung dengan pelabuhan-pelabuhan yang disinggahi. Pada abad ke-8 - 9, nusantara menjadi lintasan kapal niaga antara Asia Timur atau Cina dengan Asia Barat dari India sampai Timur Tengah, kemudian menjelang abad ke-17 mulai berkembang ke Jepang dan Eropa (Harkatiningsih:2010;16-18).
Gambar 2. Peta rute perdagangan keramik melalui jalur pelayaran
(Sumber : Harkatiningsih:2010;17)

Kehadiran barang-barang keramik menjadi salah satu indikasi lebih nyata tentang aktivitas pelayaran dan perdagangan. Keramik merupakan salah satu artefak yang memiliki ciri-ciri asal pembuatannya dan masa/kronologinya. Oleh karena itu, melalui identifikasi keramik dan korelasinya dengan tinggalan lain, dapat memberikan bukti-bukti atau peristiwa yang ada kaitannya dengan terbentuk dan berkembangnya hubungan atau kontak dagang, baik secara regional maupun interregional. Lebih dari itu, situs kapal karam merupakan himpunan yang sejaman (assemblage) yang mengandung nilai data yang sangat tinggi (Harkatiningsih:2010;16).

2.      Permasalahan
Saat ini perhatian terhadap penelitian tinggalan arkeologi bawah air masih sangat terbatas, padahal Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak peninggalan bawah air, salah satunya adalah Pulau Belitung yang merupakan surga bagi penelitian arkeologi bawah air. Hasil pendataan yang dilakukan oleh Direktorat Peninggalan Bawah Air, situs-situs arkeologi bawah air di perairan Belitung antara lain :
1.      Shipwreck yang terdapat di perairan Desa Sungai Pandan, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung dengan keadaan bangkai kapal masih tersisa.
2.      Shipwreck Batu Hitam (Belitung Wreck) pada tahun 1998 telah dieksplorasi oleh pihak swasta, isi muatan yang utuh sudah terangkat, yang tertinggal adalah bangkai dan artefak yang tidak utuh.
3.      Shipwreck perairan Pulau Siadung
4.      Shipwreck perairan Karang Raya (R.Widiati dalam Listiani: 2008;21).
Situs Karang Kijang merupakan salah satu tinggalan arkeologi yang belum pernah dilakukan penelitian arkeologi sebelumnya sehingga belum diketahui potensi tinggalan arkeologi yang ada di Situs Karang Kijang.

3.      Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah mendata tinggalan arkeologi yang ada di Situs Karang Kijang dan memberikan saran untuk penelitian selanjutnya.

4.      Metode Penelitian
Metode Penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini bersifat eksplorasi yaitu menjajagi potensi arkeologis yang terdapat di suatu tempat untuk mengetahui sesuatu yang belum diungkapkan (Sukendar,1999;20).


HASIL DAN PEMBAHASAN

Situs Karang Kijang berada sebelah barat Selat Gaspar tepatnya di koordinat 45° 22’S, 107° 34’E. Karang Kijang merupakan penamaan lokal masyarakat setempat terhadap gugusan karang, hal ini untuk membedakan letak gugusan karang yang banyak terdapat di perairan Belitung. Jarak tempuh Situs Karang Kijang dari Pelabuhan Nusantara adalah 6,2 km dan 258°.


Gambar 3. Peta letak Situs Karang Kijang
(sumber : google earth dengan modifikasi penulis)

Situs Karang Kijang memiliki kedalaman hanya 1,5 meter dari permukaan laut dan memiliki luas ± 100 m². Temuan artefak yang ditemukan adalah keramik dan fragmen bagian kapal. Temuan artefak keramik ditemukan secara mengelompok dan telah rusak, pada saat pengamatan penulis tidak menemukan artefak keramik yang utuh. Menurut nelayan, Situs Karang Kijang telah dijarah BMKT-nya, ada ribuan artefak keramik berupa mangkuk, buli-buli, dan guci utuh yang ditemukan dan dijarah oleh masyarakat. Mengingat Situs Karang Kijang hanya memiliki kedalaman yang dangkal tidak mengherankan jika situs ini mudah sekali dijarah.

Gambar 4. Foto Situs Karang Kijang memiliki kedalaman
hanya 1,5 m dari atas permukaan laut.
(sumber : Balai Arkeologi Palembang)

Keramik-keramik yang ditemukan di Situs Karang Kijang adalah keramik biru putih (blue white) dengan motif fauna yaitu motif naga (dragon) dan punggung kura-kura (turtle back). Keramik-keramik tersebut tersebar secara mengelompok dan bertumpuk-tumpuk di antara karang. Tumpukan-tumpukan keramik tersebut merupakan keramik sortir dan dibuang oleh para penjarah karena tidak utuh atau pecah dan sudah tidak bernilai ekonomis lagi.


Gambar 4 dan 5. Foto temuan fragmen keramik biru putih
berupa mangkuk dan buli-buli (?)
(sumber : Balai Arkeologi Palembang)

Keramik biru putih dengan motif naga, menurut Mr. Koh merupakan kepala dari seluruh reptil bersisik, naga merupakan kekuatan yang dapat naik ke surga maupun ke dalam bumi karena dapat mendatangkan hujan, sehingga menjadi simbol kekaisaran China serta menjadi simbol penting bagi masyarakat China karena menganggap dirinya merupakan keturunan naga. Sedangkan motif punggung kura-kura merupakan lambang dari umur panjang. Qilin, Phoenix, Kura-kura dan Naga adalah makhluk rohani 4 diberkati. Kura-kura juga disebut xuan wu (玄武), prajurit hitam memimpin bagian utara alam semesta dan melambangkan musim dingin. (Koh;2008).



Gambar 5 dan 6. Foto sebaran fragmen keramik
yang mengelompok
(sumber foto: BP3 Jambi)


Seperti telah penulis sebutkan sebelumnya, keramik tersebar mengelompok dan tidak utuh. Fragmen keramik ditemukan bertumpuk-tumpuk membentuk gundukan keramik, penulis memperkirakan keramik sisa yang masih ditemukan disitus merupakan keramik yang tidak bernilai ekonomis karena tidak bernilai jual dan ada keramik yang memang sudah pecah saat kapal menghantam karang dan kandas, keramik merupakan barang pecah belah (fragile). Berdasarkan analisa awal, penulis memperkirakan BMKT di situs Karang Kijang adalah keramik dari Dinasti Ming. Analisa ini penulis dapatkan dengan cara melakukan seriasi (tehnik perbandingan) motif dari keramik.


Gambar 7 dan 8. A, keramik Tiansun/Chenghua
periode Dinasti Ming, sedangkan B, keramik dari situs Karang Kijang.
Kedua keramik ini memiliki motif punggung kura-kura
(sumber foto A: koh-antique.com, foto B: Balai Arkeologi Palembang)


Tidak diketahui pasti kapal kandas yang membawa kargo di situs karang Kijang. Apakah kapal China, seperti situs Tek-Sing, apakah kapal Arab seperti situs Belitung Wreck, atau bahkan kapal Eropa atau Nusantara yang mengangkut kargo keramik China. Tidak ditemukan petunjuk yang berarti, penulis hanya menemukan fragmen bagian kapal yang tidak diketahui lagi bagiannya. Tentu saja analisis karbon dating (C14) di perlukan untuk mengetahui asal kayu seperti yang pernah dilakukan pada situs Belitung Wreck (lihat artikel Flecker tentang situs Belitung Wreck).


Gambar 7. Fragmen bagian perahu terbuat dari kayu
(sumber foto : BP3 Jambi)

KESIMPULAN

Situs Karang Kijang merupakan salah satu situs arkeologi bawah air dengan kedalaman yang dangkal, yaitu 1,5 meter di bawah permukaan laut. Karena letak dan kedalaman yang mudah dicapai oleh manusia serta BMKT-nya bernilai ekonomis maka Situs Karang Kijang di jarah BMKT-nya sehingga situs arkeologi ini menjadi rusak. Tinggalan data artefak berupa keramik yang masih in situ pada situs adalah keramik dengan motif flora yaitu naga dan kura-kura, keramik-keramik tersebut berbentuk mangkuk, buli-buli dan guci.
Walaupun situs ini telah dirusak, namun situs ini menjadi bukti arkeologi keganasan Selat Gaspar dengan gosong karangnya sehingga mampu untuk mengkandaskan kapal dan menumpahkan muatannya. Tidak diketahui pasti kapal apa dan dari mana kapal pembawa keramik ini berasal karena rusaknya data arkeologi pada situs. Namun situs ini layak dijadikan tempat pelatihan arkeologi bawah air untuk belajar cara melakukan lay-out dan pengukuran arkeologi bawah air dengan kedalaman yang dangkal.



PENGHARGAAN

Ucapan terima kasih penulis sampaikan untuk Agus Sudaryadi dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi dan Sakinawa dari EMAS Diving Club Bangka Belitung atas bantuannya.


DAFTAR PUSTAKA

Sukendar, Haris (Ed). 1999. Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta; Departemen Pendidikan Nasional Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Listiyani. 2008. Keramik BMKT Hasil Survei Kepurbakalaan Di Kabupaten Belitung. Buletin Relik No. 06 September 2008. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi.
Harkatiningsih, Naniek. Perdagangan Di Nusantara: Bukti-bukti Jaringan Interregional makalah dalam Proceeding Perdagangan, Pertukaran Dan Alat Tukar Di Nusantara Dalam Lintas Masa. Semarak Arkeologi 2010. Balai Arkeologi Bandung.

Internet
Koh,NK. 2008. Dragon, Winged Dragon, Dragon With Foliated Tail And Chi Dragon. http://www.koh-antique.com/motif/motif1.html (diakses tgl 21-04-2011).





[1] Artikel telah diterbitkan di Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat  TH. III No. 1, Juni 2011, Balai Arkeologi Jayapura
[2] Staf arkeologi Balai Arkeologi Palembang, Jl. Kancil Putih Lrg. Rusa Demang Lebar Daun Palembang 30137

Bangkai Kapal Perang Kubilai Khan Ditemukan

VIVAnews - Bangkai kapal perang dari abad ke-13 ditemukan di lepas Pantai Jepang. Puing-puing itu merupakan armada laut dari penguasa Mongol, Kubilai Khan, yang masa itu melakukan invasi ke Jepang.

Legenda Jepang menyebutkan dua upaya invasi yang dilakukan oleh Dinasti Yuan dihancurkan oleh angin topan yang disebut Kamikaze. Ratusan kapal dan ribuan tentara tenggelam akibat amukan badai yang juga disebut dengan 'Angin Tuhan' oleh masyarakat Jepang.

Dua invasi itu dilakukan dalam rentang waktu tujuh tahun. Menurut para sejarawan, dua upaya Dinasti Yuan untuk menyerang Jepang berakhir dengan kegagalan karena topan.

Pertama, pada 1274, dilaporkan ada 900 armada kapal Mongol dengan tentara yang dilengkapi persenjataan canggih pada masa itu karam di Teluk Hakata saat akan menyerang Jepang. Karena badai yang menghantam, kekuatan Yuan harus kembali ke Korea dalam kondisi menyedihkan setelah pertempuran Bun'ei.

Sementara itu, pada 1281, dua armada laut masing-masing berkekuatan 900 dan 3.500 kapal yang mengangkut 150.000 tentara Mongol kembali berusaha melakukan invasi. Awalnya, pasukan Korea, Cina, dan Mongol merebut pulau Iki dan Tsushima. Tapi, mereka digagalkan oleh pertahanan dinding tepi laut di daratan Jepang.

Topan kedua kemudian melanda Selat Tsushima, menghancurkan sekitar 80 persen armada Kubilai Khan. Ribuan tentara Kubilai Khan tenggelam dan bahkan ada yang dibantai oleh para Samurai Jepang setelah mencapai daratan.

Kubilai Khan diyakini telah menyiapkan armada besar untuk invasi itu. Mereka memaksa pembuat kapal membuat perahu sungai yang tidak cocok untuk laut. Dia bahkan berpikir dan telah bersumpah untuk melaksanakan invasi ketiga sebelum kematiannya pada usia 78 mengesankan.

Lambung kapal utuh

Bagian kapal yang ditemukan utuh berupa lambung kapal. Bagian ini tidak akan segera diangkat. Namun, untuk mencegah kerusakan sementara akan ditutup dengan kelambu. Selain itu juga ditemukan lebih dari 4.000 artefak, termasuk keramik, kuali tanah, peluru meriam, dan jangkar batu juga ditemukan di sekitar puing-puing kapal tersebut.

Profesor arkeologi dari Universitas Ryukyus, Okinawa, Yushifumi Ikea mengatakan penemuan bagian yang masih utuh itu sangat membantu merekonstruksi ulang kapal perang dengan panjang 60 kaki itu. "Penemuan ini sanagat penting untuk penelitian kami," kata Ikea.

"Kami berencana memperluas usaha pencarian dan menemukan informasi yang lebih banyak agar bisa membantu kami membangunkembali kapal secara lengkap."

"Saya yakin kami bisa memahami lebih banyak tentang kemampuan membuat kapal pada saat itu seperti perubahan di Asia Timur saat ini." (Sumber: Dailymail.co.uk)

sumber : vivanews.com

Download Artikel Arkeologi Bawah Air

Berikut ini saya merangkum beberapa artikel saya yang telah diterbitkan, anda dapat mengunduhnya dengan tidak merubah nama dan isi dari artikel tersebut